Berikut ini adalah kutipan Pusi Seorang Budayawan,Seniman,Rohaniawan, K.H. Mustofa Bisri
 
Kawan, sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk?
Memandang diri sendiri?
Bercermin firman Tuhan sebelum kita dihisab-Nya?
Kawan, siapakah kita ini sebenarnya?
Musliminkah?
Mukminin?
Muttaqin?
Khalifah Allah?
Umat Muhammad-kah kita?
Khaira ummatin kah kita?
Atau kita sama saja dengan makhluk lain?
Atau bahkan lebih rendah lagi?
Hanya budak-budak perut dan kelamin.


Semoga puisi singkat ini dapat memberikan renungan diakhir tahun untuk menyambut datangnya awal tahun yang lebih baik dan berarti.

Sahabat semoga cerita ini dapat menjadikan renungan dalam peyambut tahun baru nanti dan semoga bisa memberikan mafaat bagi kita semua.

Sahabat, ada cerita  menarik dari si Fulan yang belajar bersyukur dari seorang tukang Bakso, saat itu waktu sudah menunjukan jam 4 sore, itu artinya sudah waktunya broadcast di CLI meneriakan  suara merdunya yang sangat ditunggu oleh seluruh karyawan. Si Fulan pun pulang, sesampainya dirumah fulan menyempatkan diri untuk menyuci motornya, karena saat itu hujan lebat dan jalan sangat becek sehingga motornya kelihatan kotor penuh lumpur. Walupun lelah tidak menyurutkan tekadnya untuk mencuci. Baru selesai mencuci motor, tiba-tiba dari kejauhan terdengar sayup suara “bakso-bakso “ sampailah didepan rumah tukang bakso yang biasa keliling. “mang Bakso satu mang” ujar si Fulan. Setelah makan dengan lahapnya, kemudian Fulan membanyarnya


ada satu hal yang menarik, selama ini Fulan perhatikan ketika ia membayarnya, si tukang bakso selalu memisahkan uang yang
diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam toples. Sedikit ragu
Fulan pun memberanikan diri untuk bertanya. "Mang, kenapa uang - uang itu dipisahkan? Boleh tahu untuk apa ?", "Iya pak.
Mamang sudah lakukan hal ini selama 17 tahun selama jadi tukang bakso dengan tujuan ingin memisahkan mana yang menjadi
hak Mamang , manapula yang menjadi hak orang lain atau jalan ibadah, dan mana yang menjadi hak cita- cita penyempurnaan
iman ".

Fulan : "Maksudnya.. ...?", !!!.
Mamang : "Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Makanya mamang membagi 3,
dengan pembagian :

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari - hari mamang dan keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah
selama 17 tahun menjadi tukang bakso, mamang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya kecil.

3. Uang yang masuk ke toples, karena mamang ingin menyempurnakan agama yang mamang pegang yaitu Islam. Islam

mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang
besar. Makanya mamang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan
bakso ini, mamang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun

menabung, sekitar 2 tahun lagi mamang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.
Fulan pun termenung...... .....sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia.

Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan
rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali kita berlindung di balik ketidakmampuan atau belum ada rejeki.

Kemudian Fulan menambahkan "Iya memang bagus...,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk
memiliki kemampuan dalam biaya....".

Ia menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Mamang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu

bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.
Definisi "mampu" adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan
diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita
mendefinisikan diri sendiri, "mampu", maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi
kemampuan pada kita" Aminn.
"Masya Allah..., sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso"

 





0 komentar:

Posting Komentar

Trimaksih Telah Berkunjung

 
Top