Detail Laporan Dapat diunggah di sini
“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan
Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan
berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat
baik.”(Q.Surat Al-Baqoroh ayat 195)
Sahabat,
Seringkali kita mendengar istilah Infaq, Shodaqoh dan Zakat, mungkin sebagian
dari kita bertanya sebetulnya apasih perbedaannya? Mari kita coba telaah satu
persatu,infaqà
mengeluarkan sebagian harta / pendapatan /penghasilan untuk suatu kepentingan
yang diperintahkan ajaran islam. Shodaqoh/SedekahàSama dengan pengertian infak,
termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya. Hanya saja, jika infak berkaitan dengan materi, sedekah memiliki
arti lebih luas, menyangkut hal yang
bersifat non materiil.Zakatà nama bagi sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.
bersifat non materiil.Zakatà nama bagi sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.
Setiap harta yang sudah dikeluarkan
zakatnya akan menjadi suci, bersih, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang
(at-Taubah: 103, dan ar-Rum: 39).
Aku atu dia yang pantas..?
Ada
seorang sahabat menuturkan kisahnya.Sebut saja dia Fulan. Sore itu ia menemani istri dan seorang
putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan.
Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.
Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Fulan dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istriFulan, "Beri kami sedekah, Bu!"
Istri Fulan kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami
tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!".
Mendapati
isyarat pengemis wanita itu, istri Fulan pun membalas isyarat dengan gerak
tangannya seolah berkata, "Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan
sedekah untukmu!"Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Fulan dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istriFulan, "Beri kami sedekah, Bu!"
Istri Fulan kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami
tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!".
Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri
… Ironisnya meski tidak
menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Fulan malah menuju ke sebuah gerobak
gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Fulan berjalan ke
arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang TANGGAL GAJIAN,
karenanya Fulan ingin mengecek saldo rekening dia.
Di depan ATM, Ia
masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat
kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Fulan menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang
gajiannya sudah masuk ke dalam rekening. Fulan menarik sejumlah uang dalam
bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah
menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali
ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu Kemudian ia lipat
kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.
Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Fulan dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan:
Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Fulan dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan:
"Alhamdulillah...
Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan
rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir
dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah
wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga
tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di
surga...!"
Fulan tidak menyangka
ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Fulan mengira bahwa pengemis
tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh
wanita pengemis tadi sungguh membuat Fulan terpukau dan membisu. Apalagi
tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya,
"Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!"
Deggg...!!! Hati
Fulan tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap
tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata
Fulan membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu
masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.
Fulan masih terdiam
dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya
menyapa Fulan. Mata Fulan kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui
itu. "Ada apa Pak?" Istrinya bertanya.
Dengan suara yang
agak berat dan terbata-bata Fulan menjelaskan: "Aku baru saja
menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!"
Awalnya istri Fulan
hampir tidak setuju tatkala Fulan mengatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah
kepada wanita pengemis. Namun Fulan kemudian melanjutkan kalimatnya:
"Bu..., aku
memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah
berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku,
mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa!
Dia hanya menerima
karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya
bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan
ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari
10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan
tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah.
Bu..., aku malu
kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan
berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke
dalam surga Allah, apakah dia yang
menerima 10 ribu
dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak
dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah."
Fulan mengakhiri
kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa butir air mata yang menetes. Istrinya pun
menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai
hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala
nikmat-Mu anak yang shaleh dan
shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak
nanti di surga...!"


0 komentar:
Posting Komentar
Trimaksih Telah Berkunjung